Rifan Financindo Berjangka

Gathering Source

Harga minyak masih mendekati US$75 per barel

Jumat, 3 September 2010 (oleh : Bloomberg)

 
SYDNEY: Harga minyak hampir tidak mengalami perubahan di sekitar US$75 per barel setelah sempat naik akibat penurunan penjualan rumah di Amerika Serikat ke posisi yang tidak terduga serta ledakan sumur minyak di Teluk Meksiko yang mendorong spekulasi bahwa pengetatan regulasi akan memangkas produksi.

Nilai kontrak berjangka minyak naik 1,5% kemarin karena menguatnya saham AS setelah National Association of Realtors mengumumkan kenaikan jumlah kontrak untuk pembelian rumah. Sementara itu, harga minyak mentah juga naik setelah ledakan di stasiun pengangkutan Mariner Energy Inc.

'Ini jelas bahwa kini pemerintah memiliki amunisi untuk melangkah maju dengan moratorium pengeboran. Akan ada biaya yang lebih besar dan berkurangnya jumlah produksi dari Teluk Meksiko,' tegas Carl Larry, Presiden Oil Outlooks & Opinions LLC di Houston.

Nilai kontrak minyak untuk Oktober diperdagangkan pada level US$74,91 per barel, yang melemah 11 sen dalam perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange pada pukul 08.33 Sydney.

Kemarin, kontrak ini sempat naik sebesar US$1,11 menjadi US$75,02, dan turun 0,4% untuk minggu ini setelah merosot 5,6% sepanjang tahun ini.Harga minyak bangkit setelah Pemandu Teluk AS melaporkan ledakan yang terjadi 145 kilometer di lepas pantai Lousiana.

Pemerintahan Obama menerapkan moratorium sementara pada pengeboran minyak dan gas bawah air di Teluk tersebut pada 27 Mei lalu sebagai respons atas tumpahan minyak BP Plc yang merupakan bencana terburuk sepanjang sejarah AS.

Nilai kontrak minyak jenis Brent untuk pengiriman Oktober naik tipis 58 sen atau 0,8% menjadi US$76,93 per barel pada akhir sesi perdagangan di bursa ICE Futures Europe yang berbasis di London kemarin.

Sementara itu, jumlah cadangan minyak mentah AS bertambah 3,43 juta barel menjadi 361,7 juta pada pekan lalu, berdasarkan laporan Departemen Energi AS pada 1 September. Berdasarkan nilai tengah proyeksi 16 analis dalam survei Bloomberg News, cadangan diperkirakan naik 1,2 juta barel.

Pemerintah AS melaporkan produksi sejumlah kilang yang beroperasi pada kapasitas 87%, merosot 0,7% poin dari pekan sebelumnya. Angka ini merupakan posisi terendah sejak April. (t01/esu)

(www.bisnis.com)